Home
Beranda
Beranda
Tentang
Event
Artikel
Kepengurusan
Anggota

HMJ Farmasi

Wadah aspirasi dan pengembangan mahasiswa farmasi yang aktif, kreatif, edukatif, dan berakhlak mulia..

Menu

  • Beranda
  • Tentang
  • Artikel
  • Event
  • Kepengurusan

Hubungi Kami

  • Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gedung AB FKIK, lt.2, Romangpolong-Gowa
  • +6282351583049
  • hmjfarmasiuinam@gmail.com

© 2026 HMJ Farmasi.

Farmasi UIN Alauddin Makassar

Kembali ke Artikel
Opini

SURAT TAN MALAKA UNTUK KEMAFAR

SURAT TAN MALAKA UNTUK KEMAFAR

18 Agustus 2026
SURAT TAN MALAKA UNTUK KEMAFAR

Penulis: Nursadil

MER(D)EKA MEREKA — 81 Tahun Kemudian

Kepada Yth.
Pemuda-Pemudi KEMAFAR
di tempat

Perihal: Surat dari Masa Lalu untuk Mereka yang Menentukan Masa Depan

Dengan hormat,

Aku menulis surat ini dari sebuah waktu yang telah kalian sebut sebagai masa lalu. Dari sebuah zaman ketika kemerdekaan masihmenjadi cita-cita, ketika Indonesia belum sepenuhnya menjadi rumah yang berdiri sendiri, dan ketika banyak orang harusmempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kata yang hari ini begitu akrab di telinga kalian: merdeka.

Delapan puluh satu tahun telah berlalu. Waktu yang cukup panjang untuk mengubah sebuah bangsa, tetapi mungkin belum cukuppanjang untuk menyelesaikan seluruh cita-cita yang pernah diperjuangkan.

Karena itu, surat ini kutujukan kepada kalian, pemuda-pemudi KEMAFAR. Bukan untuk mengajari kalian bagaimana mencintaiIndonesia, bukan pula untuk meminta kalian mengulang perjuangan yang sama seperti yang kami lakukan dahulu. Zaman kalian berbeda. Tantangan kalian berbeda. Cara kalian berjuang pun tentu harus berbeda.

Aku hanya ingin mengajak kalian berhenti sejenak, melihat kembali arti kemerdekaan yang kalian warisi, lalu bertanya kepada dirisendiri: apa yang akan kalian lakukan dengan kemerdekaan itu?

Aku tidak tahu apakah kalian masih mengenal namaku. Mungkin kalian mengenalku dari buku sejarah. Mungkin hanya dari namajalan. Mungkin namaku pernah kalian dengar dalam diskusi, lalu kalian cari di internet. Atau mungkin kalian sama sekali tidak pedulisiapa aku. Tidak apa-apa. Aku menulis surat ini bukan untuk meminta kalian mengingat namaku. Aku hanya ingin bertanya kepadakalian satu hal:

“Apa yang kalian lakukan dengan kemerdekaan itu?”

Aku kembali setelah 81 tahun. Dan Indonesia yang kulihat hari ini bukan lagi Indonesia yang kukenal dahulu. Tidak ada lagi tentarakolonial yang berdiri di depan rumah. Tidak ada lagi laras senjata yang setiap saat mengancam. Kalian sudah memiliki negara sendiri, bendera sendiri, bahasa sendiri, dan kebebasan untuk menentukan banyak hal dalam hidup. Kalian dapat pergi ke mana saja. Kalian dapat belajar apa saja. Kalian dapat berbicara kepada siapa saja. Bahkan dalam hitungan detik, kalian dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain.

Aku melihat semua itu. Dan sejujurnya, aku kagum. Tetapi setelah kekaguman itu hilang, muncul satu kegelisahan:

“Apakah kalian benar-benar lebih merdeka?”

Sebab dulu, ketika kami berbicara tentang kemerdekaan, yang kami bayangkan bukan hanya Indonesia yang terbebas dari penjajahan. Kami membayangkan manusia yang mampu berdiri dengan pikirannya sendiri. Manusia yang tidak mudah diperintah oleh ketakutan, tidak mudah dibeli oleh kepentingan, tidak mudah dibohongi oleh informasi, dan tidak menyerahkan masa depannya kepada orang lain.

Kami hidup dalam keterbatasan. Tidak ada internet. Tidak ada Google. Tidak ada media sosial. Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat membantu menyusun tulisan dalam hitungan detik. Kami kekurangan alat, tetapi tidak kekurangan alasan untuk berpikir.Kalian memiliki hampir semua alat yang kami tidak punya, tetapi jangan sampai kalian justru kehilangan kemauan untuk berpikir.

Tetapi keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berpikir. Kami membaca. Kami berdiskusi. Kami menulis. Kami berdebat. Kami bergerak.

Sebab kami tahu bahwa perjuangan tidak hanya terjadi di medan perang. Ada darah yang tumpah di medan pertempuran, tetapi adapula pikiran yang bekerja di meja perundingan. Ada yang mengangkat senjata, ada yang berdiplomasi, bernegosiasi dan menyusunargumentasi. Artinya, kemerdekaan bukan hanya membutuhkan keberanian untuk melawan, tetapi juga kecerdasan untuk menentukanbagaimana perjuangan dilakukan.

Dan sekarang, 81 tahun kemudian, kalian hidup dalam keadaan yang jauh lebih mudah. Informasi ada di genggaman. Pendidikan lebihterbuka. Internet menghubungkan kalian dengan dunia. Kalian bisa berdiskusi dengan siapa saja. Bahkan AI bisa membantu kalian mencari dan mengolah informasi.

Mereka dulu berjuang dalam keterbatasan untuk masa depan yang belum tentu mereka nikmati. Kalian lahir dalam kemudahan, tetapikadang terlalu malas untuk memikirkan masa depan yang akan kalian tinggalkan.

Lalu bagaimana dengan KEMAFAR hari ini?

Aku membayangkan masuk ke dalam ruang KEMAFAR dan melihat puluhan pemuda dengan karakter masing-masing. Ada yang aktifberdiskusi. Ada yang hanya membaca tanpa membalas. Ada yang lantang mengkritik keadaan, tetapi belum tentu mau turun tangan. Ada yang rajin membuat rencana, tetapi hilang ketika waktunya eksekusi. Ada yang ingin perubahan, tetapi berharap perubahan itutidak terlalu mengganggu kenyamanannya.

Aku mungkin akan melihat generasi yang cepat merespons, cepat berkomentar, cepat membagikan informasi, tetapi juga cepat bosan. Generasi yang bisa berdiskusi panjang di grup, tetapi kadang menyelesaikan satu pekerjaan saja terasa berat. Generasi yang ingindidengar, tetapi belum tentu mau mendengar. Generasi yang ingin berbeda, tetapi kadang takut dianggap berbeda.

Dan mungkin aku akan tersenyum melihat kalian. Bukan karena kalian buruk. Tetapi karena kalian sebenarnya punya modal yang jauhlebih besar daripada yang kami miliki dahulu.

Kalian punya pendidikan. Kalian punya internet. Kalian punya teknologi. Kalian punya komunitas. Kalian punya kebebasan berbicara. Kalian punya ruang untuk belajar dan membangun jaringan.

Tetapi pertanyaannya: apakah semua kemudahan itu benar-benar membuat kalian lebih merdeka?

Di sinilah aku mulai melihat sesuatu yang menarik dari kata merdeka.

Bagi sebagian pemuda hari ini, merdeka mungkin berarti bebas scroll HP tanpa batas waktu, bebas tektok ke gunung, bebasnongkrong sampai malam, bebas membuat konten, bebas memilih gaya hidup, bebas pacaran, bahkan bebas berkata, “Ini hidupku.”

Tidak ada yang salah dengan kebebasan itu. Kalian memang berhak menikmati hidup. Kalian berhak berteman, bersenang-senang, mencintai seseorang dan menentukan pilihan hidup sendiri. Tetapi persoalannya bukan lagi tentang boleh atau tidak boleh.

Persoalannya adalah apakah kalian cukup dewasa untuk tahu mana yang harus didahulukan.

Sebab kadang kalian terlalu sibuk mempertahankan hubungan sampai lupa mempertahankan cita-cita. Terlalu sibuk mengejar healing, sampai lupa bahwa hidup juga butuh building. Bukan pacarannya yang salah. Yang salah ketika kebebasan membuat kalian lupabahwa hidup juga punya tujuan yang harus diperjuangkan.

Maka aku mulai bertanya:

“Apakah setiap kebebasan otomatis berarti kemerdekaan?”

Kalian bebas scroll, tetapi belum tentu bebas dari algoritma. Kalian bebas memilih konten, tetapi belum tentu bebas dari manipulasiinformasi. Kalian bebas berbicara, tetapi belum tentu berani berpikir. Kalian bebas tektok ke gunung, tetapi belum tentu beranimendaki cita-cita. Kalian bebas pacaran, tetapi belum tentu bebas dari kebiasaan menunda masa depan.

Kalian bahkan bisa merasa sudah melakukan banyak hal hanya karena hidup terlihat sibuk. Padahal sibuk tidak selalu berarti bergerak. Posting bukan berarti berkarya. Berkomentar bukan berarti berkontribusi. Berkumpul bukan berarti bertumbuh. Dan punya banyakrencana bukan berarti punya keberanian menjalankannya.

Kalian hidup di zaman yang menyukai semuanya serba sat-set. Ingin cepat pintar. Ingin cepat sukses. Ingin cepat kaya. Ingin cepatterkenal. Belum membaca sudah ingin kesimpulan. Belum mencoba sudah mencari cara tercepat. Belum gagal sudah bertanya kapanberhasil.

Kalian seperti ingin hidup punya tombol “skip”, padahal proses tidak pernah menyediakan tombol itu.

Kalian bahkan bisa menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan. Dan itu bukan masalah. AI bukan musuh. Teknologi bukanmusuh. Kemudahan bukan musuh. Yang perlu ditakutkan adalah ketika kalian mulai menyerahkan proses berpikir kepada kemudahanitu sendiri.

Kecerdasan tidak bisa di-download. Kedewasaan tidak bisa di-scroll. Dan masa depan tidak bisa dibangun dengan tombol skip.

Di sisi lain, ada beberapa di antara kalian yang mengatakan bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Kalian berbicara tentang oligarki, kapitalisme, ketimpangan, kemiskinan dan kekuasaan yang hanya berputar di kelompok tertentu.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa kalian sepenuhnya salah. Ketimpangan itu nyata. Tidak semua orang mendapatkan kesempatanyang sama. Tidak semua orang merasakan kemerdekaan dengan cara yang sama.

Tetapi aku ingin mengajukan pertanyaan lain:

Apakah perjuangan membebaskan rakyat harus selalu berhenti pada mencari siapa yang harus disalahkan?

Aku tidak ingin rakyat selamanya diposisikan sebagai korban. Rakyat harus bertumbuh.

Dan KEMAFAR juga harus bertumbuh.

Bukan hanya menjadi ruang tempat kalian bertemu, bercanda, berdiskusi atau berbagi informasi. KEMAFAR seharusnya menjaditempat di mana orang-orang di dalamnya pulang dengan pikiran yang sedikit lebih tajam daripada ketika mereka datang.

Sebab kalau kalian punya keberanian mengkritik pemerintah, tetapi tidak berani mengkritik kemalasan diri sendiri, mungkin kritikkalian belum selesai. Kalau kalian marah melihat ketidakadilan di luar sana, tetapi masih membiarkan diri sendiri tidak disiplin, mungkin perubahan yang kalian tuntut belum dimulai dari tempat yang paling dekat.

Kalau kalian ingin Indonesia lebih baik, KEMAFAR tidak boleh hanya melahirkan manusia yang pandai bicara tentangperubahan. KEMAFAR harus melahirkan manusia yang mampu menjalani perubahan itu.

Aku mengatakan ini bukan karena aku melihat kalian tidak mampu. Justru sebaliknya. Aku mengatakan ini karena aku melihat kalian mampu menjadi lebih besar daripada sekadar apa yang kalian lakukan hari ini.

Lalu kalian mungkin bertanya:

“Mengapa kalian harus tumbuh?”

Karena orang yang tidak memiliki pengetahuan lebih mudah dipengaruhi. Suaranya lebih mudah dibeli. Pilihannya lebih mudahdiarahkan. Kemarahannya lebih mudah dimainkan. Bahkan dalam demokrasi, suara rakyat bisa berubah menjadi barang yang diperjualbelikan.

Siklusnya sederhana:

Sogokan → pemimpin tidak kompeten → kebijakan timpang → rakyat semakin lemah → rakyat semakin mudah disogok kembali.

Kalau kalian ingin memutus siklus itu, kalian tidak cukup hanya mengganti orang yang duduk di atas. Kalian harus meningkatkankualitas manusia yang berada di bawah.

Dan kecerdasan yang aku maksud bukan sekadar nilai akademik, gelar, atau kemampuan menjawab soal. Cerdas berarti mampumembaca keadaan, mempertanyakan informasi, memahami konsekuensi, membedakan mana yang benar dan mana yang sekadarterlihat benar, lalu berani menentukan sikap.

Karena demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang baik, tetapi juga rakyat yang mampu memilih dengan baik.

Tetapi menjadi cerdas saja tidak cukup.

Mengapa kalian harus mencerdaskan?

Karena kalau kecerdasan hanya berhenti pada diri kalian sendiri, maka perjuangan kalian juga berhenti pada diri kalian. Kalau kalian tahu sesuatu tetapi orang di sebelah kalian tetap mudah dibohongi, dimanipulasi dan dibeli, maka pekerjaan kalian belum selesai.

Kalian harus mencerdaskan mereka.

Bukan agar mereka berpikir seperti kalian. Tetapi agar mereka mampu berpikir tanpa kalian.

Dan mungkin di sinilah makna MER(D)EKA MEREKA mulai menemukan bentuknya.

Dulu kalian mungkin mengira “mereka” adalah orang-orang yang berjuang pada masa lalu. Mereka adalah Soekarno. Mereka adalahHatta. Mereka adalah Sutan Sjahrir. Mereka adalah Ki Hajar Dewantara. Mereka adalah Agus Salim. Mereka adalah ribuan, bahkanjutaan manusia yang namanya mungkin tidak pernah tercatat dalam buku sejarah, tetapi pernah memberikan tenaga, pikiran, darah, dan hidupnya untuk Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang berjuang dengan caranya masing-masing.

Tetapi setelah 81 tahun, kalian sadar:

Mereka adalah kalian.

Kalian adalah generasi yang dulu mereka bayangkan. Dan suatu hari nanti, kalian akan menjadi “mereka” bagi generasi yang belumlahir.

Maka pertanyaannya berubah. Bukan lagi: “Apa yang sudah mereka berikan kepada kalian?” Tetapi: “Apa yang sedang kalian siapkanuntuk mereka?”

Sebab para pendahulu kalian pernah berani bermimpi tentang Indonesia ketika Indonesia bahkan belum berdiri seperti sekarang. Mereka tidak tahu apakah mereka akan menikmati hasil perjuangannya. Tetapi mereka tetap berjalan.

Sedangkan kalian sering terlalu cepat mengatakan sesuatu tidak mungkin hanya karena prosesnya panjang. Kadang yang kalian sebutrealistis hanyalah ketakutan yang sudah terlalu lama kalian pelihara.

Maka kalian tidak ingin menjadi generasi yang hanya pandai mengeluhkan Indonesia. Kalian ingin menjadi bagian dari manusia yang terus bertumbuh di dalamnya.

Kalian ingin cerdas, tetapi tidak berhenti pada diri sendiri. Kalian ingin bermimpi, tetapi tidak pengecut menghadapi prosesnya. Kalian ingin mengkritik, tetapi tidak berhenti pada keluhan.

Dan kalian ingin KEMAFAR bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin terlihat hebat, tetapi tempatbertumbuhnya orang-orang yang benar-benar mau menjadi hebat melalui proses.

Dulu mereka mempertaruhkan hidup untuk masa depan yang belum tentu mereka nikmati. Hari ini kalian menikmati masa depan yang mereka perjuangkan. Besok, kalian akan menjadi “mereka” bagi generasi yang lain.

Maka jangan sampai kalian menjadi generasi yang paling mudah mendapatkan informasi tetapi paling malas mencari kebenaran. Generasi yang paling bebas memilih tetapi paling takut menentukan. Generasi yang paling banyak memiliki akses untuk bermimpitetapi paling sedikit bersedia menjalani proses.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar seberapa bebas kalian melakukan apa yang kalian mau.

Kemerdekaan adalah ketika kalian cukup sadar untuk menentukan apa yang seharusnya kalian lakukan.

Dan mungkin, kemerdekaan yang paling berarti bukan ketika kalian mampu berkata: “Kita sudah merdeka.”

Tetapi ketika keberadaan kalian membuat satu orang lain mulai percaya bahwa ia juga mampu menentukan masa depannya sendiri.

Indonesia belum selesai. KEMAFAR belum selesai. Begitu juga kalian.

Karena pada akhirnya, MER(D)EKA MEREKA bukan hanya tentang mereka yang dahulu berjuang untuk kalian.

MER(D)EKA MEREKA adalah tentang kalian yang hari ini sedang menentukan akan menjadi “mereka” bagi “mereka” generasisetelah kalian.

Mereka adalah kalian.

Dari 81 tahun yang lalu,

Tan Malaka

 

Tags:

KEMAFARFARMASIUINAMMERDEKA

Artikel Terkait

Histerektomi kemerdekaan; Ketika kemerdekaan kehilangan Rahim perjuangannya

Opini

Histerektomi kemerdekaan; Ketika kemerdekaan kehilangan Rahim perjuangannya

“Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi sebuah bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri, ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata bahkan nyawa yang dipertaruhkan oleh mereka yang percaya bahwa bangsa ini berhak berdiri diatas kakinya sendiri”.

Alprazolam di Antara Perayaan dan Realitas

Opini

Alprazolam di Antara Perayaan dan Realitas

Setiap bulan Agustus, Indonesia menjalani ritual check-up tahunan ala pasien BPJS rutin antre setahun sekali hanya untuk memperpanjang klaim statusnya yang masih "merdeka."

MEREKA MER(D)EKA: Cermin Negara

Opini

MEREKA MER(D)EKA: Cermin Negara

Apa sebenarnya arti dari Merdeka?