Histerektomi kemerdekaan; Ketika kemerdekaan kehilangan Rahim perjuangannya

Penulis: Syahrul Hidayaturrahman
Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi sebuah bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri, ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata bahkan nyawa yang dipertaruhkan oleh mereka yang percaya bahwa bangsa ini berhak berdiri diatas kakinya sendiri.
“Histerektomi kemerdekaan” dapat dimaknai sebagai metafora tentang kondisi Ketika kemerdekaan dicabut dari Rahim perjuangannya, histerektomi secara harfiah adalah Tindakan mengangkat Rahim dalam konteks kebangsaan istilah ini menggambarkan bagaimana nilai-nilai perjuangan keadilan, kedaulatan, keberpihakan kepada rakyat, dan keberanian melawan ketimpangan perlahan diangkat dari tubuh ‘kemerdekaan’ itu sendiri.
Lantas yang menjadi pertanyaan “apakah kita sedang merawat Rahim kemerdekaan atau justru sedang mengangkatnya secara perlahan dari tubuh bangsa?” Jika kebodohan dibiarkan itu adalah gejala, jika budaya membaca melemah, itu adalah gejala, jika kritik dianggap ancaman, itu adalalah gejala dan jika rakyat kehilangan keberanian untuk mempertanyakan keadilan, itu juga merupakan gejala. Dan Ketika berbagai gejala tersebut muncul secara bersamaan, kita tidak seharusnya hanya memberikan terapi simptomatik berupa seremoni, slogan dan perayaan tahunan. Kita membutuhkan diagnosis yang lebih mendalam. Lucunya ada luka paradoks yang menyayat ; kita merayakan kemerdekaan dengan paling lantang di ruang-ruang yang paling sunyi dari kebebasan itu sendiri. Delapan puluh satu tahun perayaan dengan upacara, pengibaran bendera, lomba dan slogan patriotism. Sedangkan disisi lain sebagian rakyat masih tercekik oleh kebodohan, kelaparan dan ketidakadilan. Seolah-olah kemerdekaan adalah panggung yang megah, tetapi hanya bisa dinikmati dari kejauhan oleh mereka yang tidak pernah diundang naik ke atasnya. Tetapi kemerdekaan tidak seharusnya berhenti sampai disitu, kemerdekaan harus hadir dalam bentuk raga dan pikiran. Disinilah Pustaka memiliki nilai fundamental, hal ini disampaikan puluhan tahun yang lalu oleh seorang revolusioner bahwa “kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui pengetahuan yang membebaskan manusia dari kebodohan dan dogma.” – Tan Malaka, Madilog. Pustaka bukan sekadar ruang yang dipenuhi rak dan buku, Pustaka adalah ruang Pembebasan, la menjadi tempat manusia menemukan gagasan, mempertanyakan keadaan, memahami historical, dan membangun kesadaran. Jika kolonialisme dahulu bekerja dengan merampas tanah dan sumber daya, maka bentuk neokolonialisme yang lebih manjur melalui degradasi tumpulnya intelektual bangsa ini. Mari lihat realitas yang terjadi di bangsa ini bahwa isi perut lebih penting dari isi kepala, padahal keduanya adalah hal penting; perut yang kenyang tanpa kesadaran hanya akan melahirkan cangkang perbudakan, sedangkan kepala yang penuh tanpa perut yang terisi hanya akan kehilangan pijakan. Lantas mana yang Merdeka? Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap laboratorium intelektual akan lebih mudah menerima informasi tanpa kemampuan untuk mendiagnosanya. Masyarakat yang jauh daribuku akan lebih mudah dikendalikan oleh narasi yang dibuat oleh ‘mereka’ yang memiliki kekuasaan, karena itu membangun Pustaka sama saja membangun manusia yang mampu berpikir Merdeka.
Kemerdekaan yang seharusnya bukan hanya bebas dari penjajah secara hegemoni tetapi juga bebas dari kebodohan secara identitas. Pustaka menjadi salah satu ruang paling demokratis dalam perjalanan bangsa, di dalamnya, buku tidak bertanya siapa yang menjadi pembacanya, dari partai mana ia berasal, atau seberapa banyak SPPG atau sawit yang dimilikinya. Buku memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk berdialog dengan pemikiran manusia dari berbagai zaman. Ironi lainnya hadir ketika kita berbicara tentang ‘generasi emas” sementara banyak anak di pelosok negeri masih harus berkorban raga untuk mendapatkan akses pustaka, dan ada anak-anak yang sibuk antar memilih membeli gadget baru atau outfit baru. Kita menginginkan Masyarakat yang kritis, tetapi akses terhadap pengetahuan belum selalu menjadi prioritas. Kita ingin anak muda berpikir luas, tetapi ruang untuk membaca justru semakin kalah oleh banjir informasi yang belum tentu menghasilkan pengetahuan dan malah membodohi generasi yang katanya ‘emas” ini. di zaman informasi berlimpah, tetapi kebijaksaan menjadi barang langka. Kemerdekaan seperti apa yang kita lahirkan? Pustaka dan Pendidikan harus menjadi bagian dari propaganda kemerdekaan generasi hari ini, jika dahulu para pejuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini generasi muda harus mengangkat buku dan keberanian berpikirnya sebagai senjata untuk memerdekakan dirinya terlebih dahulu. Sebab bangsa yang berhenti berpustaka akan kehilangan kemampuan untuk memahami sejarahnya sendiri dan bangsa yang kehilangan kemampuan memahami Sejarah akan mudah mengulangi kesalahan yang sama.
Kesalahan kita di hari ini akan menjadi dosa kita di masa depan untuk generasi berikutnya.
Maka Merdeka seharusnya bukan tentang kibaran bendera, tetapi ketika pikiran kita tidak lagi terbelenggu dan tidak mudah ditundukkan. Pertanyaan selanjutnya adalah sudah “sejauh mana kita meberikan rakyat akses memperoleh Pustaka untuk berpikir dan menentukan kebenarannya sendiri?” sebab Pustaka bukan sekadar tempat menyimpan buku, Pustaka adalah tempat menyimpan kemungkinan di masa depan. Jika kemerdekaan adalah tubuh, maka pengetahuan adalah salah satu denyut yang membuatnya tetap hidup, jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi tubuh yang masih berdiri tetapi kehilangan Rahim yang melahirkan semangat perjuangannya, dan lebih fatal ketika rahim itu melahirkan perbudakan bagi yang dicintainya. Pada akhirnya penulis menjadi pesimis akan kondisi negeri dystopia bahwa proklamasi layaknya brosur Istimewa selepas perjuangan, jika benar bahwa persepsi Merdeka hanyalah simbolis pembebasan dari penjajahan. Jangan sampai hasilnya jadi hal ilusif, menyebutnya bangsa-bangsa, mendaulatkan kepemilikan pada sesuatu yang takkan pernah kita punya, dan sisanya kita biarkan hampa.
Kepadamu, 19 tahun mulai sekarang
Darimu, 19 tahun yang lalu

Opini
Setiap bulan Agustus, Indonesia menjalani ritual check-up tahunan ala pasien BPJS rutin antre setahun sekali hanya untuk memperpanjang klaim statusnya yang masih "merdeka."

Opini
Apa sebenarnya arti dari Merdeka?

Opini
Apakah merdeka hanya berarti terbebas dari penjajahan bangsa lain? Jika iya, mungkin kita memang sudah merdeka. Tetapi jika kemerdekaan berarti setiap manusia memiliki hak untuk hidup layak, dihargai, didengar, dan diperlakukan secara adil, sesuai bunyi sila kedua pancasila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka pekerjaan rumah kita sebagai bangsa masih sangat panjang.