Pondasi yang Sering Kita Lupakan

Penulis: A. Athallah Iman Aflah
Indonesia sering berbicara tentang masa depan. Kita membicarakan Indonesia Emas 2045, bonus demografi, kecerdasan buatan, hilirisasi, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting. Tetapi ada satu hal yang menurut saya jauh lebih mendasar: seberapa kuat pondasi manusia yang akan menopang semua kemajuan tersebut?
Sebab, negara tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, teknologi, dan angka pertumbuhan ekonomi. Negara dibangun oleh manusia. Dan ketika manusia yang menjadi pondasi tidak dipersiapkan dengan baik, pembangunan sebesar apa pun akan mudah kehilangan arah.
Hal ini telah menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan nasional. RPJMN 2025–2029 menempatkan penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan sebagai prioritas nasional dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa RPJMN 2025–2029 merupakan tahap pertama implementasi RPJPN 2025–2045 yang berfokus pada penguatan fondasi transformasi.
Namun pertanyaannya: apakah kita benar-benar sedang membangun manusia, atau hanya sedang mempersiapkan tenaga kerja? Menurut saya, keduanya berbeda. Manusia yang berkualitas bukan hanya manusia yang memiliki keterampilan. Ia juga harus memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, integritas, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihannya.
Di sinilah makna “merdeka” menurut saya perlu kita renungkan kembali. Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan sekaligus keberanian untuk mempertanggungjawabkannya.
Seorang mahasiswa merdeka bukan hanya mahasiswa yang bebas menyampaikan pendapat, tetapi mahasiswa yang mampu membedakan kritik dengan penghinaan. Generasi digital yang merdeka bukan hanya mereka yang bebas menggunakan teknologi, tetapi mereka yang mampu membedakan informasi dengan disinformasi.
Pemimpin yang merdeka bukan hanya mereka yang memiliki kekuasaan mengambil keputusan, tetapi mereka yang berani mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berani bertanya ketika menemukan sesuatu yang salah. Kita tidak kekurangan informasi. Kita justru hidup di tengah banjir informasi. Tantangannya adalah bagaimana membentuk manusia yang mampu memilah, menganalisis, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Begitu pula dengan teknologi.
Kita tidak boleh hanya mengejar kemampuan untuk menggunakan AI, tetapi juga harus membangun kemampuan untuk mengetahui kapan AI dapat membantu dan kapan pemikiran manusia tidak boleh digantikan.
Indonesia memiliki peluang besar melalui generasi mudanya. Tetapi bonus demografi bukanlah hadiah yang otomatis membawa kesejahteraan. Ia hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda memiliki kualitas pendidikan, keterampilan, kesehatan, karakter, dan kesempatan yang memadai.
Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya: “Seberapa maju Indonesia pada tahun 2045?” Tetapi: “Manusia seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk menerima Indonesia pada tahun 2045?”
Jika jawabannya adalah manusia yang kritis, berintegritas, adaptif, berilmu, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa, maka kita sedang membangun pondasi yang benar. Tetapi jika kita hanya mengejar bangunan tanpa memperkuat pondasinya, suatu hari kita mungkin memiliki negara yang terlihat maju, tetapi rapuh dari dalam.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak dimulai pada tahun 2045. Ia dimulai dari manusia yang kita bentuk hari ini. Karena gedung yang tinggi membutuhkan pondasi yang kuat, Begitu pula Indonesia.

Opini
Surat dari Masa Lalu untuk Mereka yang Menentukan Masa Depan

Opini
“Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi sebuah bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri, ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata bahkan nyawa yang dipertaruhkan oleh mereka yang percaya bahwa bangsa ini berhak berdiri diatas kakinya sendiri”.

Opini
Setiap bulan Agustus, Indonesia menjalani ritual check-up tahunan ala pasien BPJS rutin antre setahun sekali hanya untuk memperpanjang klaim statusnya yang masih "merdeka."