Home
Beranda
Beranda
Tentang
Event
Artikel
Kepengurusan
Anggota

HMJ Farmasi

Wadah aspirasi dan pengembangan mahasiswa farmasi yang aktif, kreatif, edukatif, dan berakhlak mulia..

Menu

  • Beranda
  • Tentang
  • Artikel
  • Event
  • Kepengurusan

Hubungi Kami

  • Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gedung AB FKIK, lt.2, Romangpolong-Gowa
  • +6282351583049
  • hmjfarmasiuinam@gmail.com

© 2026 HMJ Farmasi.

Farmasi UIN Alauddin Makassar

Kembali ke Artikel
Opini

Merdeka untuk Bertanya

Merdeka untuk Bertanya

17 Agustus 2026
Merdeka untuk Bertanya

Penulis: Muh Afdal

Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Setiap bulan Agustus, kita selalu kembali membicarakan tentang kemerdekaan. Bendera dipasang di depan rumah, jalan-jalan dihiasi merah putih, berbagai perlombaan diadakan, dan kita kembali mengingat orang-orang yang dulu berjuang untuk mendapatkan kebebasan. Tetapi di tengah semua perayaan itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak kita pikirkan, terutama sebagai mahasiswa Kalau Indonesia sudah merdeka, apakah kita juga sudah benar-benar merdeka untuk berpikir? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi saya, jawabannya tidak sesederhana itu.

Saya melihatnya dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa, yaitu ruang kelas. Setiap hari kita datang ke kampus, masuk kelas, duduk, mendengarkan dosen, mencatat materi, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu pulang. Besoknya kita melakukan hal yang sama. Rutinitas tersebut perlahan membuat kita terbiasa dengan satu pola: dosen menjelaskan, mahasiswa mendengarkan.

Padahal, bukankah kuliah seharusnya bukan hanya tentang mendengarkan?

Menurut saya, kampus adalah tempat di mana seseorang seharusnya belajar menggunakan pikirannya sendiri. Mahasiswa tidak hanya datang untuk mendapatkan nilai atau mengejar gelar sarjana. Kita datang untuk belajar memahami sesuatu, mempertanyakan sesuatu, dan menemukan cara berpikir yang lebih baik.

Namun, kenyataannya tidak semua mahasiswa merasa bebas untuk melakukan itu.

Saya yakin banyak mahasiswa yang sebenarnya punya pertanyaan ketika berada di kelas. Ada yang ingin menyampaikan pendapat, ada yang merasa kurang setuju dengan penjelasan tertentu, ada yang memiliki pengalaman berbeda, bahkan mungkin ada yang menemukan kesalahan dalam suatu pembahasan, Tetapi akhirnya memilih diam.

Kenapa?

Bisa jadi karena takut.Takut pertanyaannya dianggap tidak penting. Takut salah. Takut ditertawakan teman. Takut dianggap tidak menghargai dosen. Atau mungkin takut setelah menyampaikan pendapat, dirinya justru dicap sebagai mahasiswa yang terlalu banyak bicara bahkan di anggap bureng.

Akhirnya kita memilih diam karena diam terasa lebih aman.

Masalahnya, kalau terus seperti itu, kita bisa menjadi mahasiswa yang terbiasa menerima tetapi tidak terbiasa mempertanyakan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua dosen membuat mahasiswa takut berbicara. Tidak.

Banyak dosen justru sangat terbuka terhadap pertanyaan dan perbedaan pendapat. Mereka memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pemikiran. Tetapi menurut saya, budaya kritis di kampus bukan hanya tanggung jawab dosen. Mahasiswa juga memiliki peran yang sama.

Kadang-kadang kita menyalahkan suasana kelas karena tidak memberikan ruang untuk berdiskusi, tetapi ketika ruang itu diberikan, kita sendiri memilih diam.

Dosen bertanya, “Ada yang ingin ditanyakan?” Kelas hening.

Tidak ada yang mengangkat tangan.

Bukan karena semuanya sudah paham, tetapi karena mungkin masing-masing berpikir, “Nanti saja,” atau “Takut pertanyaanku dianggap bodoh.”

Padahal, tidak ada mahasiswa yang lahir langsung pintar.Kita berada di kampus karena sedang belajar.Kalau kita takut bertanya karena takut terlihat tidak tahu, lalu kapan kita akan belajar?

Menurut saya, justru mahasiswa yang berani mengatakan “saya belum paham” sedang menunjukkan kejujuran dalam belajar.Di sisi lain, saya juga berpikir bahwa kritik terhadap perkuliahan memang perlu. Kita tidak boleh menganggap semua yang ada di kampus sudah sempurna. Ada kalanya metode pembelajaran kurang sesuai, fasilitas belum memadai, komunikasi antara mahasiswa dan dosen kurang baik, atau aturan akademik tertentu perlu dievaluasi.

Hal-hal seperti itu layak dibicarakan.

Tetapi kritik bukan berarti bebas berbicara tanpa berpikir.Ini yang terkadang kita lupakan.Mengkritik bukan berarti mencari kesalahan orang lain. Kritik seharusnya lahir dari keinginan untuk memperbaiki sesuatu.

Misalnya, ketika kita merasa metode pembelajaran di kelas kurang efektif, jangan hanya mengatakan, “Dosen ini tidak bisa mengajar.”Kalimat seperti itu mudah diucapkan, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Akan lebih baik jika kita mampu menjelaskan apa yang menjadi persoalan. Misalnya, materi terlalu cepat, kesempatan berdiskusi terlalu sedikit, atau mahasiswa membutuhkan contoh yang lebih dekat dengan bidang yang dipelajari.

Dari sana, kritik menjadi lebih jelas.

Ada masalah yang dibicarakan, ada alasan yang diberikan, dan kalau memungkinkan ada solusi yang ditawarkan, Bagi saya, itulah kritik yang seharusnya tumbuh di lingkungan akademik.

Kritik tidak harus selalu keras.

Kadang-kadang kritik yang paling berarti justru disampaikan dengan tenang. Kita bisa mengatakan, “Menurut saya, ada cara lain yang mungkin bisa dipertimbangkan,” tanpa harus mengatakan bahwa pendapat sebelumnya salah.

Kita bisa tidak setuju tanpa harus merendahkan, Kita bisa bertanya tanpa harus merasa lebih pintar, Dan kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menjadi musuh. Karena tujuan kita berada di kampus bukan untuk mencari siapa yang paling benar. Kita berada di sana untuk mencari pemahaman yang lebih baik.Saya juga merasa bahwa mahasiswa perlu belajar satu hal penting: berani mengkritik berarti harus berani menerima kritik.

Jangan sampai kita menuntut dosen mendengarkan suara mahasiswa, tetapi kita sendiri tidak mau mendengarkan ketika ada orang lain yang mengoreksi kita. Jangan sampai kita ingin pendapat kita dihargai, tetapi ketika teman memiliki pendapat berbeda, kita langsung menganggapnya salah. Kalau begitu, kita sebenarnya belum belajar tentang kebebasan berpikir.

Kebebasan berpikir bukan berarti semua yang kita katakan harus diterima.

Kebebasan berpikir berarti kita memiliki ruang untuk menyampaikan pemikiran, kemudian siap menguji pemikiran tersebut melalui diskusi, Kalau ternyata pendapat kita salah, kita harus berani mengakuinya, Kalau ternyata pendapat kita benar, kita juga harus mampu menjelaskannya dengan alasan yang kuat.

Menurut saya, di situlah kedewasaan seorang mahasiswa mulai terlihat.

Bukan dari seberapa sering ia berbicara, Bukan juga dari seberapa banyak ia mendapatkan nilai tinggi, Tetapi dari bagaimana ia menggunakan ilmunya ketika berhadapan dengan perbedaan. Saya sering berpikir, apa sebenarnya yang akan kita bawa setelah lulus dari kampus? Tentu kita akan membawa ijazah, Kita akan membawa gelar, dan Kita akan membawa ilmu dari bidang masing-masing.

Tetapi apakah kita juga membawa keberanian untuk berpikir?

Karena setelah lulus nanti, kita akan masuk ke masyarakat yang jauh lebih luas. Kita akan menemukan kebijakan yang tidak selalu kita setujui. Kita akan menemukan keputusan yang mungkin menurut kita kurang tepat. Kita akan bekerja dengan orang-orang yang memiliki cara berpikir berbeda.

Kalau sejak di kampus kita tidak pernah belajar menyampaikan pendapat dengan baik, bagaimana kita akan menghadapi semua itu?Karena itu, saya berharap kampus tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang pintar mengerjakan ujian, tetapi juga mahasiswa yang mampu berpikir ketika tidak ada soal yang diberikan. Saya berharap ruang kelas tidak hanya menjadi tempat dosen menyampaikan materi, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa belajar bertanya.

Saya berharap perbedaan pendapat tidak dianggap sebagai ancaman Dan saya berharap kritik tidak langsung dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Sebab, kampus yang sehat bukanlah kampus yang tidak pernah mendapatkan kritik.

Menurut saya, kampus yang sehat justru adalah kampus yang mampu mendengarkan kritik, membedakan mana kritik yang memiliki dasar dan mana yang hanya berupa keluhan, kemudian menggunakan kritik tersebut sebagai bahan untuk memperbaiki diri, juga Mahasiswa pun harus belajar hal yang sama; Kalau ada yang kurang, sampaikan, Kalau ada yang salah, tanyakan, Kalau ada yang tidak dipahami, jangan malu untuk mengakuinya, Dan kalau ingin sesuatu berubah, jangan hanya membicarakannya di belakang.

Beranilah menyampaikannya dengan cara yang baik.

Mungkin perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, Bisa jadi perubahan itu dimulai dari seorang mahasiswa yang biasanya diam, kemudian suatu hari memberanikan diri mengangkat tangan “Pak, saya ingin bertanya.” Atau mungkin dari seorang mahasiswa yang berkata, “Menurut saya, ada hal yang perlu kita diskusikan.” Kalimat-kalimat itu terlihat sederhana. Tetapi bagi seseorang yang selama ini takut berbicara, keberanian tersebut bisa menjadi langkah yang besar.

Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, saya rasa kita tidak cukup hanya mengulang kata “merdeka” setiap bulan Agustus, Kita perlu memahami apa arti kemerdekaan itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagi saya, salah satu bentuk kemerdekaan yang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah kebebasan untuk berpikir, bebas bertanya, bebas berbeda, bebas menyampaikan kritik, Dan juga bebas dari sikap merasa paling benar.

Sebab kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan menjadi kebisingan, Kritik tanpa dasar hanya akan menjadi keluhan, Dan pendidikan tanpa keberanian berpikir hanya akan menghasilkan orang-orang yang pandai menghafal, tetapi belum tentu mampu memahami.

Maka, saya ingin melihat ruang kelas yang sedikit lebih berani.

Ruang kelas di mana mahasiswa tidak takut bertanya, Ruang kelas di mana dosen tidak merasa terganggu ketika mahasiswa berbeda pendapat, Ruang kelas di mana kritik tidak dianggap sebagai serangan, tetapi sebagai kesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Karena pada akhirnya, mahasiswa yang merdeka bukanlah mahasiswa yang paling banyak bicara.

Mahasiswa yang merdeka adalah mahasiswa yang berani berpikir sendiri, berani bertanya, berani berbeda, dan berani bertanggung jawab atas apa yang ia pikirkan dan katakan. Jadi, ketika bendera merah putih kembali berkibar pada 17 Agustus nanti, saya tidak hanya ingin bertanya apakah Indonesia sudah merdeka.

Saya juga ingin bertanya kepada diri sendiri

Sudahkah saya menggunakan kemerdekaan itu untuk berpikir?

Sebab mungkin, salah satu cara sederhana untuk menghargai kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu kita adalah dengan tidak menyia-nyiakan kebebasan yang kita miliki hari ini. Dan mungkin, kemerdekaan itu bisa dimulai dari tempat yang sederhana, dari sebuah ruang kelas, dari keberanian seorang mahasiswa untuk mengangkat tangan, dan dari satu kalimat sederhana- “Saya memiliki pendapat yang berbeda.”

Selamat Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81.

Tags:

KEMAFARFARMASIUINAM17AGUSTUS

Artikel Terkait

Kita Adalah Mereka,

Opini

Kita Adalah Mereka,

Jangan hanya bertanya apa yang sudah Indonesia berikan kepada kita. Tanyakan juga apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia?

Pondasi yang Sering Kita Lupakan

Opini

Pondasi yang Sering Kita Lupakan

Karena gedung yang tinggi membutuhkan pondasi yang kuat, Begitu pula Indonesia.

Merdeka dari Penjajah, Belum Tentu Merdeka dari Kekuasaan

Opini

Merdeka dari Penjajah, Belum Tentu Merdeka dari Kekuasaan

Sejauh manarakyat Indonesia benar-benar merasakan kemerdekaan itu?