Merdeka dari Standar Kesuksesan

Penulis: Ahmad Banyuasin
“Karena menjadi bebas bukan hanya untuk melepaskan rantai seseorang, tetapi untuk hidup dengan cara yang menghormati dan meningkatkan kebebasan orang lain." - Nelson Mandela
Tercatat dalam sejarah, Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dalam rentang waktu tersebut Indonesia telah melewati beberapa orde orde yang berbeda. Indonesia telah menetapkan kepada para pemuda bangsanya untuk memiliki kebebasan secara individual, baik kebebasan dalam menempuh pendidikan, memilih pekerjaan, menentukan masa depan bahkan kebebasan dalam menentukan standar kesuksesan.
Namun, fenomena yang terjadi pada akhir akhir terdapat akun akun platform digital baik itu Tiktok, Instagram, Facebook, Twitter dan lainnya yang secara ilegal menetapkan “Standar Kesuksesan” bagi seorang pria, diantaranya seperti memiliki gaji diatas UMR, memiliki Pajero, memiliki Fortuner, lulus kuliah tepat waktu dan lain lainnya. Naasnya timbul sebuah pertanyaan dari seorang perempuan dalam sebuah postingan tiktok “Apakah wajib mentaati suami yang gajinya dibawah UMR?” pertanyaan ini justru secara tidak langsung bisa timbul dikarenakan adanya kontenkonten yang secara ilegal menentukan standar kesuksesan bagi seorang laki laki.
Kita terus tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan yang terus menerus menekankan diri kita untuk mendengarkan bahkan mengejar apa yang dikatakan pada orang yang justru tidak memiliki arti dalam hidup kita sendiri, seorang anak yang berusia 6-18 tahun akan selalu dilontarkan kata kata yang justru membandingkan ke anak yang lain.
“Ranking berapa di kelas?”, “Anak si A sudah bisa menghafal 10 juz”, “Anak si B sudah berhasil menjuarai kompetisi SAINS tingkat Provinsi”. Hal ini tetap berlanjut hingga ia memasuki jenjang kuliah “Sudah semester berapa”, “Kapan lulusnya?”. Bahkan setelah menyelesaikan studi ia akan tetap dihantui dengan kata kata “Kapan menikah?”, “Gajinya Berapa?”. Pertanyaanpertanyaan tersebut akan berubah menjadi standar standar yang menjadi ukuran kesuksesan seseorang.
Akhirnya, hidup justru akan menjadi seperti perlombaan yang tidak ada akhir. Seorang anak akan berjalan dengan tujuan yang tidak ia hendaki, ia akan terus menerus sibuk melihat siapa yang berada di depannya tanpa memperhitungkan batasan kemampuan dirinya. Ketika temannya terlebih dahulu memiliki pekerjaan, maka ia akan merasa sangat tertinggal dan gagal. Padahal, semua orang memiliki titik tumpu, titik awal, kondisi, kemampuan dan tujuan yang berbeda dari yang lainnya. Tidak adil membandingkan perjalanan seseorang dengan perjalanan orang lain hanya karena garis akhirnya terlihat sama.Lalu, sebenarnya kesuksesan itu milik siapa? Apakah milik kita pribadi?, atau milik orang orang yang memiliki kuota internet untuk posting kata kata standar kesuksesan?, atau milik mereka yang terus menerus menentukan kesuksesan kita? Apakah seorang pria yang memiliki gaji di bawah UMR namun hidupnya bahagia tetap gagal?, atau orang yang memiliki pekerjaan bergengsi namun hidupnya tidak bahagia adalah kesuksesan?, dan apakah orang yang memiliki waktu yang lebih panjang untuk mencapai tujuannya adalah sebuah kegagalan?
Menurut saya, TIDAK
Kesuksesan itu seharusnya tidak memiliki hanya satu definisi dan standar yang berlaku bagi semua orang. Bagi sebagian orang mendefinisikan sukses adalah memiliki jabatan dan gaji yang tinggi. Namun, sebagian orang juga mendefinisikan sukses adalah mampu membantu keluarga dan hidup sederhana. Maka, disinilah makna “Mer(D)eka Mereka” menjadi penting. Mungkin negara kita telah merdeka secara nasionalis namun, kita belum merdeka sebagai individu. Kita terus menerus hidup dengan berdasarkan apa yang “mereka” katakan terkait kesuksesan. Kita mengejar standar yang telah ditetapkan mereka, dan menumbuhkan sikap untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Sampai pada akhirnya kita lupa untuk berkata pada diri sendiri:”Sebenarnya, apa yang saya ingin capai?”.
Namun, merdeka bukan berarti kita menutup segala konsekuensi yang akan terjadi. Memilih jalan sendiri bukan berarti kita menolak nasihat, mengabaikan keluarga bahkan menutup telinga dengan apa yang memang layak untuk didengarkan. Kemerdekaan justru berarti keberanian untuk menentukan pilihan sekaligus berani untuk mempertanggung jawabkan atas pilihan tersebut. Makna kemerdekaan yang paling sulit untuk direalisasikan bukanlah membebaskan diri dari penjajahan, tetapi membebaskan diri dari menggantung kesuksesan kita pada perkataan dan standar yang telah ditetapkan orang lain. Sebab pada akhirnya hidup bukanlah sebuah perlombaan yang tiada akhir, namun hidup merupakan bagaimana cara kita untuk terus melanjutkan perjalanan dengan jalan kita sendiri, waktu sendiri, dan mendefinisikan keberhasilan dengan makna standar yang telah kita tetapkan sendiri.
Merdeka bukan berarti menjadi sukses menurut mereka. Merdeka adalah bagaimana kita sukses dengan cara kita sendiri

Opini
“Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi sebuah bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri, ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata bahkan nyawa yang dipertaruhkan oleh mereka yang percaya bahwa bangsa ini berhak berdiri diatas kakinya sendiri”.

Opini
Setiap bulan Agustus, Indonesia menjalani ritual check-up tahunan ala pasien BPJS rutin antre setahun sekali hanya untuk memperpanjang klaim statusnya yang masih "merdeka."

Opini
Apa sebenarnya arti dari Merdeka?