Kita Adalah Mereka

Penulis: Nurhidayat Asis
KITA ADALAH MEREKA siapa yg memegang kunci?
“Jangan hanya bertanya apa yang sudah Indonesia berikan kepada kita. Tanyakan juga apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia?”
Tidak semua hasil lahir dari proses yang sama.
Ada yang sampai setelah menunggu. Ada yang tiba setelah menempuh jalan panjang. Ada pula yang sampai lebih cepat karena menemukan jalan yang berbeda. Perbedaan proses tidak selalu berarti ketidakadilan. Setiap orang memiliki keadaan, kemampuan, dan perjalanan masing-masing. Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak berubah, kesempatan untuk mendapatkan sesuatu melalui proses yang adil.
Kita mungkin pernah melihatnya dalam sebuah antrean.
Seseorang datang ketika barisan telah panjang. Ia tidak mengambil nomor, tidak berdiri di belakang siapa pun. Ia hanya menghampiri petugas, berbicara sebentar, kemudian mendapatkan pelayanan lebih dahulu. Sementara mereka yang datang sebelumnya masih menunggu. Kita mungkin merasa tidak nyaman melihatnya. Namun sebelum rasa itu sempat menjadi pertanyaan, seseorang berkata,
“Anunya itu didalam”.
Lalu kita diam.
Seolah-olah hubungan adalah alasan yang cukup untuk membuat seseorang melewati proses yang harus dilalui orang lain, Barangkali kita menganggapnya bukan persoalan besar, Hanya satu orang, Hanya beberapa menit. Setelah itu antrean kembali berjalan dan semuanya selesai.
Tetapi, bagaimana jika kali ini kita berada di tempatnya?
Bagaimana jika justru nama kita yang dipanggil lebih dahulu? Bagaimana jika petugas di balik meja adalah seseorang yang kita kenal? Bagaimana jika satu percakapan singkat dapat membuat urusan kita selesai tanpa harus melewati antrean panjang seperti orang lain?
Apakah kita masih akan memikirkan mereka yang sedang menunggu di belakang?Atau kita akan mulai mencari alasan untuk membenarkan keadaan?
“Anuku itu….”
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin masuk akal ketika kita yang diuntungkan, Kita tidak merasa sedang merampas sesuatu, Kita hanya menerima kemudahan yang datang kepada kita.
Namun, ketika kemudahan itu membuat kita melewati orang lain, apakah kita masih bisa menyebutnya sekadar bantuan? Sebab bisa jadi, ketika kita melangkah lebih dahulu, ada seseorang yang tetap berdiri di belakang karena memilih mengikuti proses yang sama. Kita mungkin tidak pernah melihat wajahnya, tidak mengetahui namanya, dan tidak tahu nomor berapa antreannya.
Yang kita tahu hanyalah urusan kita selesai lebih cepat.
Dan ketika keuntungan berpihak kepada kita, sering kali yang paling sulit bukan menerimanya, melainkan menyadari siapa yang harus menunggu karena kita mendapatkannya. Di situlah keadilan menjadi sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar sebuah aturan. Membicarakan keadilan akan terasa mudah ketika kita berada di pihak yang dirugikan. Yang jauh lebih sulit adalah tetap memegang prinsip ketika ketidakadilan justru memberikan keuntungan kepada kita.
Antrean sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sederhana: setiap orang memiliki giliran. Tidak perlu mengenal petugas untuk mendapatkan pelayanan. Tidak perlu memiliki hubungan khusus untuk memperoleh hak yang sama.
Tetapi kehidupan tidak selalu memiliki nomor antrean.
Ada kesempatan yang tidak memiliki barisan, Ada pintu yang tidak memiliki nomor. Ada posisi yang tidak dapat diperoleh hanya dengan menunggu, Di ruang-ruang seperti itulah hubungan dapat memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
Ada pintu yang terbuka karena kemampuan, ada yang terbuka karena kesempatan. Namun, ada pula pintu yang terbuka karena seseorang mengenal siapa yang memegang kuncinya. Kedekatan menjadi jalan, sebuah nama menjadi penghubung, dan rekomendasi menjadi langkah yang mengantarkan seseorang ke ruang yang mungkin belum tentu terbuka bagi mereka yang datang tanpa hubungan.
Tidak semuanya salah.
Kita memang hidup sebagai makhluk sosial. Saling membantu adalah bagian dari kehidupan, Merekomendasikan seseorang yang kita percaya juga tidak selalu berarti mengabaikan keadilan.Persoalannya muncul ketika kedekatan mulai menggantikan kelayakan
“Karena anunya…”
Pada titik itu, yang berubah bukan hanya siapa yang mendapatkan kesempatan, Yang berubah adalah makna dari kesempatan itu sendiri, Dalam kehidupan sehari-hari, hal semacam ini mungkin hanya terasa sebagai ketidaknyamanan kecil. Namun ketika kebiasaan yang sama tumbuh di ruang kekuasaan, dampaknya menjadi jauh lebih besar. Sebuah nama mulai menjadi pertimbangan, hubungan menjadi jalan, dan kedekatan perlahan menggantikan kemampuan. Sebab dalam pemerintahan, satu keputusan tidak hanya menentukan nasib seseorang. Ia dapat membuka kesempatan bagi satu orang, sekaligus menutupnya bagi banyak orang.
Ketika hubungan mulai menentukan siapa yang berada di dalam, sementara kemampuan hanya menjadi second choice, di situlah nepotisme menemukan ruangnya. Persoalannya kemudian tidak lagi sebatas siapa yang dilayani lebih dahulu.
Yang dipertaruhkan adalah sesuatu yang jauh lebih besar: kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang seharusnya bekerja untuk semua. Jabatan publik bukan milik pribadi. Kekuasaan bukan warisan keluarga. Dan kesempatan dalam pemerintahan semestinya tidak menjadi hadiah bagi mereka yang memiliki hubungan paling dekat dengan penguasa.
Karena itu, kita berhak mengkritik ketika praktik semacam ini terjadi. Kita berhak mempertanyakan proses yang tidak adil dan menuntut pemerintahan yang transparan, yang menempatkan kemampuan dan kelayakan sebagai first choice.
Namun, kritik akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada mereka yang sedang berkuasa. Sebab mereka yang berada di dalam pemerintahan berasal dari masyarakat yang sama dengan kita, Mereka pernah menjadi orang yang menunggu, Mereka pernah mencari kesempatan, Mereka pernah berada di luar sebuah pintu dan berharap pintu itu terbuka dan Begitu pula dengan kita.
Hari ini mungkin kita sedang berada di luar sistem. Namun tidak ada yang menjamin bahwa selamanya kita akan berada di posisi yang sama.Sebagian dari kita kelak mungkin menjadi pegawai pemerintahan, pengambil kebijakan, pemimpin organisasi, atau orang yang memiliki kewenangan untuk menentukan nasib orang lain.
Ketika saat itu datang, pertanyaannya tidak lagi sekadar tentang bagaimana kita menilai kekuasaan, Pertanyaannya adalah:
Akan menjadi seperti apa kita ketika memiliki kekuasaan itu?
Sebab mudah mengatakan bahwa nepotisme adalah kesalahan ketika kita tidak memiliki kepentingan di dalamnya, Yang lebih sulit adalah mempertahankan prinsip ketika sebuah hubungan dapat memberikan keuntungan kepada kita.
Karena itu, tugas kita sebagai warga negara tidak cukup hanya dengan mengkritik, Kita perlu cerdas dan mencerdaskan.Cerdas untuk memahami bahwa hubungan bukan ukuran kelayakan. Cerdas untuk mengetahui kapan bantuan menjadi bentuk kepedulian dan kapan bantuan mulai mengambil hak orang lain.
Cerdas untuk mempertanyakan sesuatu yang telah terlalu lama dianggap biasa dan mencerdaskan berarti membawa kesadaran itu ke lingkungan terdekat kita.
Kepada keluarga, Kepada teman, Kepada organisasi, dan Kepada tempat kita bekerja.
Sebab budaya pemerintahan tidak muncul begitu saja ketika seseorang menduduki sebuah jabatan, Ia tumbuh dari kebiasaan yang kita bawa sejak jauh sebelumnya. Jika kita terbiasa menganggap
“karena anunya…”
sebagai jalan untuk melewati proses, bukan tidak mungkin kebiasaan yang sama akan kita bawa ketika suatu hari memiliki kewenangan.
Sebaliknya, ketika kita terbiasa menghargai proses, menjaga kesempatan, dan menempatkan kemampuan sebagai first choice, maka kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi “mereka” yang kelak memegang kunci dan menentukan pintu mana yang terbuka bagi orang lain.
Karena itu, kemerdekaan perlu kita pahami lebih jauh.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Setiap tahun kita mengibarkan bendera, mengikuti upacara, dan mengenang perjuangan mereka yang merebut kebebasan bangsa ini.
Namun kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.Kemerdekaan juga tentang kemampuan sebuah bangsa untuk memberikan kesempatan yang adil kepada warganya. Sebab apa artinya merdeka jika seseorang harus mengenal orang tertentu agar pintunya terbuka? Apa artinya merdeka jika kemampuan dapat dikalahkan oleh kedekatan? Apa artinya merdeka jika sebagian orang harus berjalan melalui proses yang panjang, sementara sebagian lainnya dapat mengambil jalan pintas karena itunya…?
Mungkin kita memang tidak dapat membuat semua orang memperoleh hasil yang sama. Dan memang tidak harus begitu.
Setiap orang memiliki kemampuan, usaha, dan perjalanan yang berbeda. Tetapi kita dapat memperjuangkan sesuatu yang lebih mendasar: Proses yang adil. Karena hasil yang berbeda belum tentu merupakan ketidakadilan. Namun proses yang sengaja dibuat berbeda berdasarkan kedekatan dapat menciptakan ketidakadilan bahkan sebelum seseorang sempat membuktikan kemampuannya.
Maka, di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apakah Indonesia sudah merdeka?” Melainkan, “Merdeka menurut siapa?”
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa “mereka” yang harus berubah. Padahal mereka tidak selalu berada jauh dari kita, Mereka bisa saja adalah orang yang dahulu kita lihat melewati antrean, Mereka bisa menjadi orang yang mendapatkan kesempatan karena hubungan, Mereka bisa menjadi orang yang kelak duduk di balik meja pemerintahan dan mungkin, tanpa kita sadari, “mereka” adalah “kita” hari ini.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang kebebasan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, Kemerdekaan juga tentang kesediaan untuk memastikan bahwa orang lain tidak kehilangan haknya karena kita memiliki jalan yang lebih mudah. Kita adalah mereka.
Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka untuk berpikir, merdeka untuk bersikap, dan merdeka untuk berlaku adil. MERDEKA

Opini
Penjara tidak selalu memiliki tembok, jeruji, dan penjaga. Ada penjara yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan oleh mereka yang hidup di dalamnya. Penjara itu bernama ketimpangan, Penjara itu bernama kemiskinan, Penjara itu bernama ketakutan, Penjara itu bernama ketidakadilan dan penjara itu dapat semakin kuat ketika kekuasaan tidak lagi merasa perlu mendengar suara rakyat.

Opini
"TEKNOLOGI diciptakan untuk mempermudah, bukan untuk MENGIKIS rasa NASIONALISMEmu"

Opini
Karena gedung yang tinggi membutuhkan pondasi yang kuat, Begitu pula Indonesia.