Home
Beranda
Beranda
Tentang
Event
Artikel
Kepengurusan
Anggota

HMJ Farmasi

Wadah aspirasi dan pengembangan mahasiswa farmasi yang aktif, kreatif, edukatif, dan berakhlak mulia..

Menu

  • Beranda
  • Tentang
  • Artikel
  • Event
  • Kepengurusan

Hubungi Kami

  • Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gedung AB FKIK, lt.2, Romangpolong-Gowa
  • +6282351583049
  • hmjfarmasiuinam@gmail.com

© 2026 HMJ Farmasi.

Farmasi UIN Alauddin Makassar

Kembali ke Artikel
Opini

Humanisasi/Dehumanisasi? Merdeka, Katanya!

Humanisasi/Dehumanisasi? Merdeka, Katanya!

17 Agustus 2026
Humanisasi/Dehumanisasi? Merdeka, Katanya!

Penulis: Nur Kholiq Ramdhan

Indonesia akan kembali merayakan kemerdekaannya yang ke 81 tahun. Bendera merah putih akan berkibar di mana-mana, lagu kebangsaan akan terdengar, lomba makan kerupuk akan dimulai, dan masyarakat akan sibuk berlomba-lomba meramaikannya disetiap daerahnya masing-masing.

Semuanya terlihat meriah. Bukti bahwa kita memang sangat pandai merayakan sesuatu. Namun, ada satu hal yang sering luput dalam pandangan kita tentang negeri ini, ke(manusiaan). Kita bangga mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka selama 81 tahun.

Tetapi, apakah manusiadi dalamnya benar-benar sudah diperlakukan sebagai manusia? Pertanyaan ini mungkin sedikit mengganggu. Sayangnya, memang begitulah pertanyaan yang akan muncul ketika kita berhenti sibuk memasang umbul-umbul dan mulai melihat keadaan sekitar.

Kita sering berbicara tentang persatuan, tetapi masih mudah merendahkan orang yang berbeda. Kita meneriakkan “MERDEKA!” dengan penuh semangat, tetapi di media sosial masih gemar menghina orang lain hanya karena berbeda pendapat. Kita bangga menyebut Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong, tetapi terkadang lebih cepat merekam orang yang sedang kesusahan dari pada menolongnya.

81 Tahun bukan waktu yang singkat, sungguh LUCUNYA NEGERI INI.

Kita ingin terlihat sebagai bangsa yang beradab, tetapi masih menganggap kemiskinan sebagai bahan tontonan. Kita ingin disebut bangsa yang ramah, tetapi tidak jarang memperlakukan kelompok yang lemah seolah-olah keberadaan mereka mengganggu pemandangan. Bahkan, seseorang bisa kehilangan harga dirinya hanya karena pakaian, pekerjaan, pendidikan, atau kondisi ekonominya tidak sesuai dengan standar masyarakat sekitarnya.

Inilah salah satu wajah dehumanisasi, Dehumanisasi tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ia bisa hadir dalam bentuk kata-kata, candaan, penghinaan, diskriminasi, perundungan, atau sikap tidak peduli. Kita bahkan sering melakukannya sambil tertawa, kemudian berlindung di balik kalimat klasik

“cuma bercanda.”

Padahal, bagi orang yang menjadi sasaran, mungkin itu bukan candaan.Ironisnya, kita begitu sibuk mengenang para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, tetapi kadang lupa memperjuangkan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Kita menghafal nama- nama pahlawan, tetapi belum tentu mampu menghargai manusia yang hidup di sebelah kita.

Lalu, apa sebenarnya arti kemerdekaan?

Apakah merdeka hanya berarti terbebas dari penjajahan bangsa lain? Jika iya, mungkin kita memang sudah merdeka. Tetapi jika kemerdekaan berarti setiap manusia memiliki hak untuk hidup layak, dihargai, didengar, dan diperlakukan secara adil, sesuai bunyi sila kedua pancasila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka pekerjaan rumah kita sebagai bangsa masih sangat panjang.

Sebab, penjajahan mungkin sudah berakhir, tetapi kebiasaan merendahkan sesama ternyata belum. Di usia Indonesia yang ke 81 ini, mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang“generasi emas”.

jika masih banyak manusia yang diperlakukan seperti barang rongsokan yang tidak ada harganya. Kita juga tidak membutuhkan perayaan yang semakin megah jika rasa peduli terhadap sesama justru semakin sederhana.Humanisasi seharusnya tidak menjadi teori yang hanya dibicarakan di ruang kelas atau seminar.

Humanisasi dimulai dari hal yang sangat sederhana dilingkungan sekitar kita. berhenti menghina, berhenti merundung, berhenti menghakimi, dan mulai memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah negara yang benar-benar merdeka bukan hanya seberapa megah perayaannya, tetapi seberapa manusiawi kehidupan rakyatnya. Jadi, silakan kibarkan bendera, Silahkan ikuti lomba, Silakan berteriak “MERDEKA!” sekeras-kerasnya.

Tetapi setelah itu, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah kita benar-benar sedang merayakan kemerdekaan? atau hanya merayakan sebuah tanggal sambil pura-pura tidak melihat manusia yang masih diperlakukan tidak manusiawi?

Indonesia sudah 81 tahun merdeka.Sebab merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, bukan hanya merah yang berkibar di langit dan putih yang menari di tiang-tiang upacara. Merdeka adalah ketika seorang manusia tak perlu kehilangan martabatnya hanya karena ia miskin, berbeda, lemah, atau tak memiliki kuasa, atau manusia sekadar alat untuk mencapai kepentingan.

Sekarang, mungkin waktunya kita belajar memerdekakan manusia dari dehumanisasi. Ada tangan yang tetap terulur ketika yang lain jatuh. Ada mereka yang memilih mendengar ketika dunia terlalu sibuk berbicara. Ada guru yang menyalakan harapan, petani yang menanam kehidupan, buruh yang menjaga roda negeri, dan anak-anak yang percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

Barangkali,cinta kepada Indonesia hari ini bukan tentang meneriakkan paling keras bahwa kita mencintai tanah air, melainkan tentang memastikan tak ada manusia yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Dirgahayu Indonesia 81 tahun merdeka!!!

semoga kita tak hanya membangun negeri, tetapi juga menjadikan DEHUMANISASI menjadi HUMANISASI.

Tags:

KEMAFARFARMASIUINAMMERDEKA

Artikel Terkait

Histerektomi kemerdekaan; Ketika kemerdekaan kehilangan Rahim perjuangannya

Opini

Histerektomi kemerdekaan; Ketika kemerdekaan kehilangan Rahim perjuangannya

“Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi sebuah bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri, ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata bahkan nyawa yang dipertaruhkan oleh mereka yang percaya bahwa bangsa ini berhak berdiri diatas kakinya sendiri”.

Alprazolam di Antara Perayaan dan Realitas

Opini

Alprazolam di Antara Perayaan dan Realitas

Setiap bulan Agustus, Indonesia menjalani ritual check-up tahunan ala pasien BPJS rutin antre setahun sekali hanya untuk memperpanjang klaim statusnya yang masih "merdeka."

MEREKA MER(D)EKA: Cermin Negara

Opini

MEREKA MER(D)EKA: Cermin Negara

Apa sebenarnya arti dari Merdeka?